Namun aku dan Setia mungkin hanya sejengkal.
Hanya saja ungkapannya tak berani kutampakan.
Ya.. Aku hanya terus menulis dibawah pohon harapan, bak punguk merindukan Bulan.
Sampai daun di pohon habis menguburku dan angin akan meniupnya, hingga kembali seperti semula.
Aku jadi teringat. Kata seorang penyair, jika drama sedang kau sutrdai, kau yang akan jadi peran utama untuk sebuah karma.
Tapi bukan itu yang hendak kuutarakan..
Aku hanya ingin mengenang masa manis kita, karna aku mengenalmu dengan baik, namun Cinta merubahku menjadi sosok kejam yang pergi meninggalkan.
Dan masih dibawah pohon harapan, selalu kugantungkan rasa, yang sedang kupetik kini..
Rasa yang sedang kunikmati tanpa bisa kumiliki.
Sudahlah..
Rasanya cukup dengan melihatmu bahagia saja. Cukup dengan mendengar kabarmu kau tak apa. Dan aku tak mengapa.. Tak bisa menghampirimu.
Aku hanya ingin berterima Kasih..
Karna telah membuat ku merasa bersamamu,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar